Selasa, 20 Maret 2012

( Kingdom: Bacteria )
 ( Phylum: Actinobacteria )
 ( Order: Actinomycetales )
 ( Suborder: Corynebacterineae )
( Family: Mycobacteriaceae )
 ( Genus: Mycobacterium )
( Species: M. tuberculosis
Binomial name Mycobacterium tuberculosis

Spesies ini adalah patogen manusia yang intrasel fakultatif dan menyebabkan tubercolosis. Penyakit ini sebagian besar tinggal di lingkungan urban padat sehingga menjadi masalah utama diantara kaum miskin karena meningkatnya kemungkinan penyebaran melalui pernapasan dan adanya pasien-pasien yang tidak diobati.
Mycobacterium tuberculosis tidak dapat diklasifikasikan sebagai bakteri gram positif atau bakteri gram negatif, karena apabila diwarnai sekali dengan zat warna basa, warna tersebut tidak dapat dihilangkan dengan alkohol, meskipun dibubuhi iodium. Oleh sebab itu bakteri ini termasuk dalam bakteri tahan asam. Mycobacterium tuberculosis cenderung lebih resisten terhadap faktor kimia dari pada bakteri yang lain karena sifat hidrofobik permukaan selnya dan pertumbuhan bergerombol. Mycobacterium tuberculosis tidak menghasilkan kapsul atau spora serta dinding selnya terdiri dari peptidoglikan dan DAP, dengan kandungan lipid kira-kira setinggi 60% (Simbahgaul, 2008). Pada dinding sel mycobacteria, lemak berhubungan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan di bawahnya. Struktur ini menurunkan permeabilitas dinding sel, sehingga mengurangi efektivitas dari antibiotik. Lipoarabinomannan, suatu molekul lain dalam dinding sel mycobacteria, berperan dalam interaksi antara inang dan patogen, menjadikan Mycobacterium tuberculosis dapat bertahan hidup di dalam makrofag
Morfologi
Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman batang lurus atau agak bengkok, berukuran panjang 1 sampai 4 µ dan lebar 0,2 sampai 0,8 µ, dapat ditemukan bentuk sendiri maupun berkelompok. Kuman ini merupakan bakteri tahan asam (BTA) yang bersifat tidak bergerak, tidak berspora, dan tidak bersimpai. Pada pewarnaannya M. tuberculosis tampak seperti manik-manik atau tidak terwarnai secara merata.
 Sifat-Sifat Biakan:
1.Kuman bersifat aerob yaitu organisme yang melakukan metabolisme dengan bantuan oksigen.
2.Sifat pertumbuhan lambat (waktu generasi  2 sampai 6 minggu), sedangkan koloninya muncul pada pembiakan 2 minggu sampai 6 minggu.
3.Suhu optimum pertumbuhan pada 37˚C dan pH optimum 6,4 sampai 7.
4.Tumbuh subur pada biakan (eugonik), adapun perbenihannya dapat diperkaya dengan penambahan telur, gliserol, kentang, daging, ataupun asparagin.
Daya Tahan:
Kuman ini tahan terhadap desinfektan kimia dan pengeringan. Dapat mati pada suhu 60˚C selama 20 menit, ataupun pada suhu 100˚C dengan waktu yang lebih singkat. Jika terkena sinar matahari, biakan kuman mati dalam waktu 2 jam. Pada dahak kuman ini dapat bertahan 20 sampai 30 jam walaupun disinari matahari. Selain itu, kuman mati oleh tincture iodii , etanol 80%, dan fenol 5%.
Patogenesis:
Dasar sifat virulensi kuman ini belum diketahui. Kuman ini tidak membuat toksin, namun keanekaragaman komponen dari kuman ini memiliki keaktifan biologis yang berbeda-beda yang dapat mempengaruhi pathogenesis, alergi, dan kekebalan pada penyakit ini. Virulensi tergantung pada dua senyawa di selubung sel M. tubercolosis yang berminyak. Faktor genjel (cord factor, trehalosa mikrolet) menghambat respirasi mitokondria. Sulfolipid/ sulfatida menghambat fusi fagosom-lisosom, sehingga M. tubercolosis dapat bertahan hidup dalam sel.
Infeksi terjadi melalui debu atau titik cairan(droplet) yang mengandung kuman TBC dan masuk ke jalan nafas. Penyakit imbul setelah kuman menetap dan berkembang biak dalam paru-paru atau kelenjar getah bening regional.
Perkembangan penyakit bergantung pada : Dosis kuman yang masuk dan Daya tahan serta hipersensitivitas hospes.
Kelainan patologi yang terjadi :
1.Tipe Eksudatif
Terdiri dari inflamasi yang akut dengan edema, sel-sel leukosit PMN dan menyusul kemudian sel-sel monosit yang mengelilingi tuberculosis. Kelainan ini terutama terlihat pada jaringan paru dan mirip Pneumonia bakteri. Dalam masa eksudatif ini tuberculin adalah positif.
2. Tipe Produktif
Apabila sudah matang prosesnya lesi ini berbentuk granuloma yang kronik, terdiri dari 3 zona.:
a) Zona Sentral dengan sel raksasa yang berinti banyak dan mengandung tuberculosis.
b) Zona Tengah yang terdiri dari sel-sel epitel yang tersusun radial
c) Zona yang terdiri dari fibroblast, limfosit, dan monosit. Lambat laun zona luar akan berubah menjadi fibrotik dan zona sentral akan mengalami perkijuan. Kelainan seperi ini disebut sebagai tuberkel.

Perjalanan Kuman tuberculosis di dalam tubuh.
Kuman menjalar melalui saluran limfe ke kelenjar getah bening à ductus thoracicus à Organ tubuh melalui aliran darah à Dapat juga langsung dari proses perkijuan masuk ke vena àPecah ke bronkus àTersebar ke seluruh paru-paru atau tertelan ke tractus digastivus.

Jalur Infeksi:
Kuman tuberculosis biasanya masuk ke dalam tubuh melalui hirupan nafas, tertelan, atau masuk melalui luka pada kulit. Jika terhirup oleh pernafasan kuman ini mengendap pada alveoli paru-paru, lalu difagosit oleh makrofag alveolus. Di dalam fagosit kuman ini terus berkembang biak. Fagosit yang berisi kuman yang dimakannya berfungsi sebagai alat pengangkut infeksi ke berbagai bagian tubuh
4. Gejala umum
· Rasa letih, lesu, kurus dan demam
· Pada tuberculosis paru batuk- batuk yang disertai darah, sakit dada, anemi, keringat malam.
· Komplikasi tuberculosis paru adalah pleuritis, ateletaksis paru, tbc miliaris dan meningitis.

PENCEGAHAN PENYAKIT TUBERCULOSIS

TBC dapat dicegah dengan memutuskan rantai penularan yaitu dengan mengobati penderita TBC sampai benar-benar sembuh serta dengan melaksanakan Pola Hidup Bersih dan Sehat. Sedangkan untuk penyembuhan dengan jalan minum obat yang diberikan secara teratur,sampai dinyatakan sembuh. Seseorang yang positif menderita penyakit TBC bila berobat di unit pelayanan kesehatan akan mendapat obat TBC yang disebut"Kombipak" atau paket obat FDC yang semuanya diberikan secara gratis, dengan mutu dan kualitas.
H. D O T S
DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse chemotherapy) adalah strategi pengobatan pasien TB dengan menggunakan paduan obat jangka pendek dan diawasi langsung oleh seorang pengawas yang dikenal sebagai PMO (pengawas menelan obat). Pengobatan TBC dengan strategi DOTS ini merupakan satu-satunya pengobatan TBC yang saat ini direkomendasikan oleh oraganisasi kesehatan sedunia (WHO) karena terbukti paling efektif. Obat TBC harus diminum secara teratur sampai penderita dinyatakan sembuh. Lama pengobatan berkisar 6sampai dengan 8 bulan. Jika tidak teratur minum obat akan menimbulkan: >( Penyakitnya akan lebih sukar diobati ) > ( Kuman TBC dalam tubuh akan berkembang semakin banyak dan menyerang organ tubuh lain) >( Akan membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat sembuh ) > ( Biaya pengobatan akan sangat besar .
Pencegahan terhadap kemungkinan terjangkitnya penyakit ini merupakan langkah yang paling efektif dan efisien. Adapun yang dapat kita lakukan sebagai upaya pencegahan adalah sebagai berikut:
* Konsumsi makanan bergizi
Dengan asupan makanan bergizi, daya tahan tubuh akan meningkat. Produksi leukosit pun tidak akan mengalami gangguan, hingga siap melawan bakteri TBC yang kemungkinan terhirup. Selain itu, konsumsi makanan bergizi juga menghindarkan terjadinya komplikasi berat akibat TBC (Anonim e, 2010).
* Vaksinasi
Dengan vaksinasi BCG yang benar dan di usia yang tepat, sel-sel darah putih menjadi cukup matang dan memiliki kemampuan melawan bakteri TBC. Meski begitu, vaksinasi ini tidak menjamin penderita bebas sama sekali dari penyakit TBC, khususnya TBC paru. Hanya saja kuman TBC yang masuk ke paru-paru tidak akan berkembang dan menimbulkan komplikasi. Bakteri juga tidak bisa menembus aliran darah dan komplikasi pun bisa dihindarkan. Dengan kata lain, karena sudah divaksin BCG, anak hanya menderita TBC ringan (Anonim e, 2010).
* Lingkungan
Lingkungan yang kumuh dan padat akan membuat penularan TBC berlangsung cepat. Untuk itulah mengapa lingkungan yang sehat dan kebersihan makanan dan minuman sangat perlu untuk dijagaPADA ANA
dd 
- Jangan meludah di sembarang tempat .
- Gunakan tempat yang tertutup untuk menampung dahak.
 
- dahak jangan dibuang di sembarang tempat.
- Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (tidak merokok, jemur kasur dan tikar secara teratur, ventilasi udara serta sinar matahari.

Diagnosis Laboratorium
Untuk mengetahui secara pasti, seseorang menderita penyakit TBC atau tidak, yaitu dgn pemeriksaan dahaknya di laboratorium klinik (dahak=riak, bukan ludah).Pemeriksaan dahak harus dilakukan sebanyak 3kali selama 2 hari.Jika hasilnya positif ada kuman berarti orang tersebut menderita penyakit TBC.
F. WAKTU PEMERIKSAAN SPS (Sewaktu Pagi Sewaktu )
> Sewaktu (Hari I): dahak diperiksa di laboratorium sewaktu penderita datang dengan gejala penyakit TB.
 

> Sewaktu (Hari II): sehabis bangun tidur keesokan harinya, keluarkan dahak, tampung dalam pot (wadah) yang diberi petugas, tutup rapat, bawa ke rumah sakit atau puskesmas.
 

> Sewaktu (hari ke II ) pada saat suspek datang ke puskesmas atau rumah sakit.

Setelah dahak dibawa ke rumah sakit, kemudian di buat preprat dan di warnai menggunakan pewarnaan BTA. Kemudian di periksa secara mikroskopis, dan di hitung jumlah BTA, lalu hasil dilaporkan menurut cara IUAT
Perhitungan Cara IUAT
1. Tidak ditemukan basil tahan asam dlm 100 Lp = 0.
2. Dijumpai 1-9 basil tahan asam/100 Lg : ditulis jumlah yg dijumpai.
3. Dijumpai 10-99 basil tahan asam/100 Lp : +
4. Dijumpai 1 - 10 basil tahan asam / 1 Lp : + +
5. Dijumpai lebih dari 10 basil tahan asam/1 Lp : + + +


PENGECATAN SEDIAAN BIOLOGIS
Stain(ing) : membuat warna (biasanya) sesuatu menjadi berbeda dengan sekitarnya (Wilkipedia, the free encyclopedia online), dalam biologi sering diartikan sebagai pengecatan atau pewarnaan.
Pertanyaan sederhana : mengapa pewarnaan/ pengecatan dan apa yang diwarnai?
Sediaan mikroskopis dari jaringan atau sel yang tersering diwarnai, meskipun demikian, sediaan anatomi makroskopik seperti arteri dan vena juga bisa diwarnai menggunakan kombinasi antara cairan latex dan cat tembok warna merah gelap (arteri) atau biru gelap (vena). Tetapi konsep yang terakhir ini berbeda dengan konsep staining dalam biologi.
MENGAPA PENGECATAN/ PEWARNAAN SEL?
Agar pengamatan mikroskopik dari jaringan/ sel menjadi lebih baik.
Merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam laboratorium diagnostik veteriner.
Beragam teknik dan jenis zat warna/ kombinasinya yang digunakan
Banyak prosedur laboratorium diagnostik yang melakukan pemeriksaan sel.
Histopatologi, sitologi, mikrobiologi, dan berbagai pemeriksaan mikroskopik lainnya
BEBERAPA ZAT PENGECAT
Mordant : bahan kimia yang digunakan sebagai fiksator/ menjadikan sesuatu (baisanya bahan kimia) tidak terlarut dan dapat beraksi dengan zat warna.
Menurut definisinya : mordant ialah suatu zat warna yang memiliki gugus hidroksil dan karboksil, serta bermuatan negatif dan bersifat anionik. Beberapa mordant juga memiliki gugus amino dan bersifat kationik dan juga membutuhkan keberadaan metal agar bisa menampilkan warna yang lebih baik.
Beberapa metal yang biasanya terikat dengan mordant ialah ion ferri, aluminium,
Sifat anionik dan kationik ini menyebabkannya mampu berinteraksi dengan berbagai molekul yang berada di sel, terutama protein, karena protein memiliki rantai samping asam amino yang bisa bermuatan positif atau negatif, tergantung dari rasio kedua muatan tersebut.
Secara biologis, mordant berperan penting untuk fiksasi protein yang biasanya dalam bentuk koloid menjadi bentuk yang lebih padat dan kemudian bereaksi dengan zat warna.
Beberapa mordant yang sering digunakan ialah hematein (natural black 1), lainnya ialah chromoxane cyanine R (mordant blue 3) dan celestine biru B (mordant blue 14), keduanya biasa digunakan sebagai pengganti dari hematoksilin dengan adanya penambahan garam ferri. Alizarin merah-S (mordant red 3) berguna untuk memperlihatkan keberadaan kalsium pada kerangka embrio atau fetus.
Terkait dengan diagnosa klinis secara mikroskopis, ada beberapa zat pewarna yang umum digunakan, dalam tulisan ini akan ditekankan beberapa zat pewarna yang sering digunakan untuk mewarnai sel dalam disiplin kedokteran hewan/ veteriner.
Hematoksilin : diekstraksi dari sejenis tanaman logwood, jika dioksidasi akan membentuk haematein, senyawa yang berwarna biru keunguan. Digunakan bersama-sama dengan garam Fe(III) atau Al(III) untuk mewarnai inti sel.
Eosin : sering digunakan sebagai zat warna tandingan dari hematoksilin dalam pewarnaan H&E (haematoxylin and eosin) yang populer dalam teknik histologi. Eosin mewarnai sitoplasma sel menjadi merah jambu agak oranye, tergantung pH-nya, eosin juga mewarnai eritrosit menjadi merah sedikit kecoklatan, tergantung pH mediumnya.
Biru metilen : biasa digunakan sebagai pewarna yang umum, hanya untuk membedakan antara sel dan latar belakangnya saja, tanpa bermaksut melakukan kajian differensiasi. Biru metilen memberi warna biru cerah yang bisa bergradasi (biru muda sampai biru agak tua), jika mewarnai sel, bisa memperlihatkan keberadaan morfologi nukleolus dan pola struktur kromatin di dalam nukleolus.
TUJUAN PEWARNAAN
Tergantung jenis sediaannya dan tujuannya : ini yang pertama harus diperhatikan. Jelasnya, pengecatan bertujuan agar sel lebih mudah diamati dan dievaluasi
Ada beberapa jenis pewarnaan :
Bisa pewarnaan sederhana : hanya untuk melihat bentuk sel, bisa dilakukan dengan menggunakan zat warna biru metilen (tersering) atau zat warna lainnya. Umumnya menggunakan satu jenis zat warna.
Pewarnaan khusus : Agar tampak kontras untuk membedakan beberapa komponen tertentu seperti spora dan kapsel pada sel bakteri atau pewarnaan komponen tertentu di sel seperti karbohidrat, dan lain-lain. Bisa juga pewarnaan komponen patologis tertentu yang mungkin ada di sel seperti badan inklusi. Pewarnaan khusus umumnya memerlukan dua macam zat warna atau lebih, juga memerlukan bahan dan teknik yang biasanya tidak tersedia di laboratorium klinik yang kecil, biasanya dilakukan di laboratorium patologi.
Pewarnaan differensial : bertujuan membedakan sifat tertentu dalam sel, contohnya inti dan sitoplasma digunakan pewarnaan hematoksilin dan eosin.
Inti yang bersifat asam akan menyerap zat warna hematoksilin yang bersifat alkalis (basofilik) dan sitoplasma yang bersifat netral/ sedikit alkalis akan menyerap zat warna yang bersifat asam (eosinofilik).
Pewarnaan differensial lain : dalam teknik mikrobiologi untuk membedakan sifat sel bakteri (pewarnaan Gram dan Ziehl Nielsen).
Pewarnaan differensial : Merupakan pewarnaan penting dalam histopatologi dan sitologi dan merupakan salah satu dasar dalam pengembangan dari pewarnaan polikromatik seperti pewarnaan Romanowsky.
print print
What is macroevolution?
Macroevolution generally refers to evolution above the species level. So instead of focusing on an individual beetle species, a macroevolutionary lens might require that we zoom out on the tree of life, to assess the diversity of the entire beetle clade and its position on the tree.
macroevolution
Macroevolution refers to evolution of groups larger than an individual species.


The three domainsThe history of life, on a grand scale.

Macroevolution encompasses the grandest trends and transformations in evolution, such as the origin of mammals and the radiation of flowering plants. Macroevolutionary patterns are generally what we see when we look at the large-scale history of life.
It is not necessarily easy to "see" macroevolutionary history; there are no firsthand accounts to be read. Instead, we reconstruct the history of life using all available evidence: geology, fossils, and living organisms.
Once we've figured out what evolutionary events have taken place, we try to figure out how they happened. Just as in microevolution, basic evolutionary mechanisms like mutation, migration, genetic drift, andnatural selection are at work and can help explain many large-scale patterns in the history of life.
The basic evolutionary mechanisms — mutation, migration, genetic drift, and natural selection — can produce major evolutionary change if given enough time.

Macroevolution equation

Download this, and the graphic at the top of the page, from the Image library.

A process like mutation might seem too small-scale to influence a pattern as amazing as the beetle radiation, or as large as the difference between dogs and pine trees, but it's not. Life on Earth has been accumulating mutations and passing them through the filter of natural selection for 3.8 billion years — more than enough time for evolutionary processes to produce its grand history.


Patterns in macroevolution
You can think of patterns as "what happened when." All of the changes, diversifications, and extinctions that happened over the course of life's history are the patterns of macroevolution.
However, beyond the details of individual past events — such as, when the beetle radiation began or what the first flowers looked like — biologists are interested in general patterns that recur across the tree of life:
1.StasisStasis: Many lineages on the tree of life exhibit stasis, which just means that they don't change much for a long time, as shown in the figure to the right.In fact, some lineages have changed so little for such a long time that they are often called living fossils. Coelacanths comprise a fish lineage that branched off of the tree near the base of the vertebrate clade. Until 1938, scientists thought that coelacanths went extinct 80 million years ago. But in 1938, scientists discovered a living coelacanth from a population in the Indian Ocean that looked very similar to its fossil ancestors. Hence, the coelacanth lineage exhibits about 80 million years' worth of morphological stasis.
Coelacanth
A coelacanth swimming near Sulawesi, Indonesia


2.StasisCharacter change: Lineages can change quickly or slowly. Character change can happen in a single direction, such as evolving additional segments, or it can reverse itself by gaining and then losing segments. Changes can occur within a single lineage or across several lineages. In the figure to the right, lineage A changes rapidly but in no particular direction. Lineage B shows slower, directional change.Trilobites, animals in the same clade as modern insects and crustaceans, lived over 300 million years ago. As shown below, their fossil record clearly suggests that several lineages underwent similar increases in segment number over the course of millions of years.

Trilobite rib changes

3.Lineage-splitting (or speciation): Patterns of lineage-splitting can be identified by constructing and examining a phylogeny. The phylogeny might reveal that a particular lineage has undergone unusually frequent lineage-splitting, generating a "bushy" tuft of branches on the tree (Clade A, below). It might reveal that a lineage has an unusually low rate of lineage-splitting, represented by a long branch with very few twigs coming off (Clade B, below). Or it might reveal that several lineages experienced a burst of lineage-splitting at the same time (Clade C, below).

Lineage splitting

4.
Extinction
Download all the graphics on this page from the Image library.
Extinction: Extinction is extremely important in the history of life. It can be a frequent or rare event within a lineage, or it can occur simultaneously across many lineages (mass extinction). Every lineage has some chance of becoming extinct, and overwhelmingly, species have ended up in the losing slots on this roulette wheel: over 99% of the species that have ever lived on Earth have gone extinct. In this diagram, a mass extinction cuts short the lifetimes of many species, and only three survive.



You've reached the end of this section, but if you'd like to continue reading through Evolution 101, click the 'next' button below. Or you can go back to the Evolution 101 cover page.

The big issues
Darwin's notesA page from Darwin's notebook.All available evidence supports the central conclusions of evolutionary theory, that life on Earth has evolved and that species share common ancestors. Biologists are not arguing about these conclusions. But they are trying to figure out how evolution happens, and that's not an easy job. It involves collecting data, proposing hypotheses, creating models, and evaluating other scientists' work. These are all activities that we can, and should, hold up to our checklist and ask the question: are they doing science?
All sciences ask questions about the natural world, propose explanations in terms of natural processes, and evaluate these explanations using evidence from the natural world. Evolutionary biology is no exception. Darwin's basic conception of evolutionary change and diversification (illustrated with a page from his notebook at left) explains many observations in terms of natural processes and is supported by evidence from the natural world.
Some of the questions that evolutionary biologists are trying to answer include:
  1. Does evolution tend to proceed slowly and steadily or in quick jumps?
  2. Why are some clades very diverse and some unusually sparse?
  3. How does evolution produce new and complex features?
  4. Are there trends in evolution, and if so, what processes generate them?


The pace of evolution
Does evolution occur in rapid bursts or gradually? This question is difficult to answer because we can't replay the past with a stopwatch in hand. However, we can try to figure out what patterns we'd expect to observe in the fossil record if evolution did happen in bursts, or if evolution happened gradually. Then we can check these predictions against what we observe.
What should we observe in the fossil record if evolution is slow and steady?
If evolution is slow and steady, we'd expect to see the entire transition, from ancestor to descendant, displayed as transitional forms over a long period of time in the fossil record.
A fossil record showing gradual evolution
In the above example, the preservation of many transitional forms, through layers representing a length of time, gives a complete record of slow and steady evolution.In fact, we see many examples of transitional forms in the fossil record. For example, to the right we show just a few steps in the evolution of whales from land-dwelling mammals, highlighting the transition of the walking forelimb to the flipper.
Transitional forms in whale evolution
Transitional forms in whale evolution

What would we observe in the fossil record if evolution happens in "quick" jumps (perhaps fewer than 100,000 years for significant change)?
If evolution happens in "quick" jumps, we'd expect to see big changes happen quickly in the fossil record, with little transition between ancestor and descendant.
A fossil record showing quick evolution
In the above example, we see the descendant preserved in a layer directly after the ancestor, showing a big change in a short time, with no transitional forms.When evolution is rapid, transitional forms may not be preserved, even if fossils are laid down at regular intervals. We see many examples of this "quick" jumps pattern in the fossil record.
Does a jump in the fossil record necessarily mean that evolution has happened in a "quick" jump?
We expect to see a jump in the fossil record if evolution has occurred as a "quick" jump, but a jump in the fossil record can also be explained by irregular fossil preservation.

Irregular preservation of transitional forms

Download the graphics on this page from the Image library.

This possibility can make it difficult to conclude that evolution has happened rapidly.
We observe examples of both slow, steady change and rapid, periodic change in the fossil record. Both happen. But scientists are trying to determine which pace is more typical of evolution and how each sort of evolutionary change happens.

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum ke tiga dalam mata kuliah Mikrobiologi Pangan 1 ini
adalah pengamatan bentuk bakteri, kapang dan khamir dengan tujuan agar
para praktikan dapat membedakan bentuk bakteri, kapang dan khamir.
Namun pada praktikum yang dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2011
ini jenis mikroorganisme yang diamati hanya bakteri dan khamir dengan
sampel bakteri yang berbeda untuk setiap kelompok.
A. Bakteri
Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode empiris
untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, gram
positif dan gram negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel
mereka. Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan
Denmark Hans Christian Gram (1853–1938) yang mengembangkan teknik
ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus dan bakteri
Klebsiella pneumoniae.
Prinsip dasar dari pewarnaan adalah adanya ikatan ion antara
komponen selular dari bakteri dengan senyawa aktif dari pewarna yang
disebut kromogen. Terjadi ikatan ion karena adanya muatan listrik baik pada
komponen seluler maupun pada pewarna. Berdasarkan adanya muatan ini
maka dapat dibedakan pewarna asam dan pewarna basa.
Pembuatan film / apusan bakteri dilakukan sebelum proses pewarnaan
gram. Beberapa langkah dalam pembuatan film ini diantaranya pembersihan
gelas objek dengan kapas yang sudah diberi alkohol 70%. Pembersihan ini
dimaksudkan agar gelas objek steril dan tidak ada mikroorganisme lain yang
menempel pada gelas objek tersebut. Kemudian gelas objek yang sudah
disterilkan tersebut dikeringkan dengan cara di angin-anginkan. Langkah
selanjutnya yaitu pengambilan Öse suspense bakteri secara aseptis.
Pengambilan dilakukan secara aseptis agar bakteri yang akan diamati tidak
mengalami kontaminasi dengan mikroorganisme lain yang ada di
sekitarnya. Kemudian bakteri yang telah diambil tadi dioleskan pada gelas
objek dengan penyebaran setipis mungkin. Penyebaran yang tipis ini
Nova Nurfauziawati
240210100003
Kelompok 1A
dilakukan untuk memudahkan ketika pengamatan dengan menggunakan
mikroskop. Langkah selanjutnya adalah melakukan fiksasi.
Proses pewarnaan Gram memiliki beberapa tahap. Pertama,
pemberian pewarna kristal violet pada bakteri yang diletakkan di atas gelas
objek tadi. Pewarna kristal violet ini berguna sebagai indikator bakteri gram
positif. Setelah ditetesi pewarna kristal violet, objek glas dibilas dengan air
aquades, gelas objek dipegang pada posisi miring kemudian dikeringkan
dengan menempelkan kertas serap yaitu kertas tissue pada bakteri tanpa
mengelapnya. Kedua, pemberian Gram Iodium (lugol) yang berfungsi
sebagai pembentuk kompleks ungu kristal-yodium (UK-Y), kemudian
diamkan selama satu menit lalu dibilas kembali dengan air aquades dan
dikeringkan seperti tadi. Ketiga, pemberian alkohol 95% untuk
menghilangkan warna pada gelas objek sampai warna tidak luntur lagi (± 20
detik) lalu dibilas dan dikeringkan lagi. Keempat, pewarnaan dengan larutan
safranin yang berfungsi sebagai indikator bakteri gram negatif ataupun
positif selama ± 20 detik kemudian dibilas dengan aquades dan dikeringkan.
Setelah melakukan tahapan-tahapan tersebut kita akan mendapatkan
warna yang khas, warna ungu kebiruan untuk bakteri Gram positif yang
menyerap pewarna kristal violet dan warna kemerahan untuk bakteri Gram
negatif yang menyerap larutan safranin. Bakteri gram positif adalah bakteri
yang mempertahankan zat warna metil ungu sewaktu proses pewarnaan
Gram. Bakteri jenis ini akan berwarna biru atau ungu di bawah mikroskop.
Sedangkan bakteri gram negatif akan berwarna merah atau merah muda
karena tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan
Gram. Perbedaan klasifikasi antara kedua jenis bakteri ini terutama
didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel bakteri.
Bakteri gram positif dinding selnya tersusun oleh peptidoglikan dalam
jumlah besar. Sedangkan bakteri gram negatif mengandung lebih sedikit
peptidoglikan namun strukturnya lebih kompleks, dimana bagian terluarnya
tersusun atas lipopolisakarida (rantai karbohidrat dan lipid). Bakteri gram
negatif lebih berbahaya karena lipopolisakarida bersifat racun. Dan
Nova Nurfauziawati
240210100003
Kelompok 1A
membran terluar bakteri gram negatif nemberikan perlindungan kepada
bakteri gram negatif terhadap bertahan dari sel inang.
Tabel 1. Perbedaan gram positif dan gram negatif pada bakteri
No Urutan Pewarnaan Gram positif Gram negatif
1 Warna violet
kristal (VK), 1
menit
Sel berwarna violet biru Sel berwarna violet biru
2 Larutan iodium
(I), 1 menit
Terbentuk kompleks
VK-I, sel berwarna
violet-biru
Terbentuk kompleks VKI,
sel berwarna violet biru
3 Pencucian dengan
alkohol
Dinding sel mengalami
dehidrasi. Pori-pori
berkerut, permeabilitas
menurun. Kompleks
VK-I tidak dapat ke luar
sel. Sel tetap berwarna
violet biru.
Lemak terekstraksi dari
dinding sel, pori-pori
membesar. Kompleks
VK-I tercuci keluar. Sel
tidak berwarna
4 Safranin, 20 detik Sel tetap berwarna violet
biru
Sel menyerap zat warna
sehingga berwarna merah
Berdasarkan pengamatan dengan perbesaran mikroskop 100 kali yang
dilakukan ketika praktikum dari sampel yang diberikan kepada praktikan
adalah sampel C diperoleh bakteri dengan warna ungu kebiruan, berbentuk
basil, dan bergerombol. Bakteri tersebut merupakan bakteri gram positif dan
merupakan bakteri Lactobacillus sp, yaitu lebih tepatnya bakteri
Lactobascillus bulgaricus. Bakteri ini tidak berspora, berbentuk batang yang
panjang, anaerobik fakultatif dan katalase negatif. Bakteri ini menyerupai
streptokoki dalam kebutuhannya akan nutrien (Fardiaz, 1992).
Gambar bakteri yang terlihat pada mikroskop adalah sebagi berikut:
Nova Nurfauziawati
240210100003
Kelompok 1A
Gambar 1. Bakteri Lactobascillus bulgaricus (Sampel C)
perbesaran 100 kali
Sedangkan gambar bakteri Lactobascillus bulgaricus berdasarkan
literatur adalah sebagai berikut:
Gambar 2. Bakteri Lactobascillus bulgaricus (novinite,2011)
Jenis Lactobacillus dapat dibedakan atas dua kelompok, yaitu:
1. Bersifat homofermentatif
Bakteri homofermentatif memecah gula menjadi asam laktat dan dapat
tumbuh pada suhu 370C atau lebih. Spesies yang tergolong
homofermentatif misalnya:
a. Lactobacillus bulgaricus
b. Lactobacillus lactis
c. Lactobacillus acidophilus
d. Lactobacillus thermophilus
e. Lactobacillus delbrueckii
2. Bersifat heterofermentatif
Bakteri heterofermentatif memecah gula menjadi asam laktat dan
produk-produk lain seperti alkohol, asetat dan karbondioksida. Spesies
yang tergolong heterofermentatif misalnya Lactobacillus fermentatum
dan Lactobacillus brevis. (Fardiaz, 1992).
Nova Nurfauziawati
240210100003
Kelompok 1A
Bakteri yang diamati pada praktikum ini selain bakteri Lactobascillus
bulgaricus adalah bakteri Lactobacillus acidophilus, Streptococcus
thermophilus dan Bifidobacterium bifidum.
Bakteri Lactobacillus acidophilus merupakan bakteri gram positif
karena setelah diberi pewarnaan gram dan diamati di bawah mikroskop
bakteri ini berwarna ungu kebiruan, berbentuk basil atau batang, bersifat
non motil, dan nonspora yang memproduksi asam laktat sebagai produk
utama dari metabolisme fermentasi dan menggunakan laktosa sebagai
sumber karbon utama dalam memproduksi energi. Lactobacillus
acidophilus dapat tumbuh baik dengan oksigen ataupun tanpa oksigen, dan
bakteri ini dapat hidup pada lingkungan yang sangat asam sekalipun, seperti
pada pH 4-5 atau dibawahnya dan bakteri ini merupakan bakteri
homofermentatif yaitu bakteri yang memproduksi asam laktat sebagai satusatunya
produk akhir.
Gambar 3. Bakteri Lactobacillus acidophilus (sampel A).
Perbesaran 160/0,17
Sedangkan gambar bakteri Lactobacillus acidophilus berdasarkan
literatur adalah sebagi berikut:
Gambar 4. Bakteri Lactobacillus acidophilus (musee-afrappier,2011)
Antara gambar yang diperoleh berdasarkan hasil di bawah mikroskop
tidak terjadi perbedaan. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri yang diamati
benar-benar merupakan bakteri Lactobacillus acidophilus.
Nova Nurfauziawati
240210100003
Kelompok 1A
Sampel lain yang digunakan dalam praktikum ini adalah sampel D
yang merupakan bakteri Streptococcus thermophilus. Bakteri jenis ini
memiliki bentuk kokus atau bulat, bergerombol dan merupakan bakteri
gram positif. Namun, pada praktikum kali ini, praktikan menemukan bahwa
bakteri ini merupakan bakteri gram negatif. Kesalahan ini mungkin
disebabkan karena perlakuan fiksasi yang terlalu lama ataupun karena agar
yang tidak sengaja terambil pada saat pengambilan sampel. Selain itu, juga
bisa disebabkan karena terkotaminasi. Kemungkinan lain yang dapat
menyebabkan kesalahan ini adalah kotornya lensa pada mikroskop yang
digunakan untuk mengamati bakteri tersebut.
Berikut ini merupakan bakteri Streptococcus thermophilus
Gambar 5. Streptococcus thermophilus (sampel D)
Perbesaran 16 x 40
Sedangkan gambar berdasarkan literatur adalah sebagai berikut:
Gambar 6. Streptococcus thermophilus (buyprobiotics, 2011)
Streptococcus memiliki karakteristik berbentuk bulat, hidup
berpasangan dengan rantai pendek atau panjang yang tergantung pada
spesies dan kondisi pertumbuhannya, dan semuanya bersifat
homofermentatif (Frazier dan Westhoff, 1978, Pelczar dan Chan, 1988).
Streptococcus memiliki diameter yang kurang dari 2μm,
membutuhkan kondisi nutrisi yang kompleks dengan suhu pertumbuhan
Nova Nurfauziawati
240210100003
Kelompok 1A
optimum sekitar 370C (Pelczar dan Chan, 1988). Beberapa spesies bersifat
proteolitik dan biasanya bersifat lipolitik (Fardiaz, 1989).
Streptococcus thermophilus merupakan spesies yang tergolong grup
viridan, penting dalam pembuatan keju (Frazier dan Westhoff, 1978), dapat
tumbuh pada suhu 450C dan masih tahan dengan perlakuan suhu 600C
selama 30 menit (Fardiaz, 1989). Secara morfologis, Streptococcus
thermophilus berbentuk bulat, sering hidup dalam bentuk rantai, bersifat
termofilik dengan pH optimum untuk pertumbuhannya sekitar 6,6 – 6,8
(Helferich dan Westhoff, 1980).
Sesuai dengan namanya, bakteri Streptococcus thermophilus bersifat
termofilik, yaitu mikroba yang dapat tumbuh dalam suhu yang relatif tinggi
dengan suhu minimum 250C, suhu optimum 44-550C dan maksimum 55-
650C.
Sampel terakhir yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu sampel
B dengan nama bakteri Bifidobacterium bifidum. Beberapa karakteristik dari
bakteri Bifidobacterium ini adalah gram-positif, anaerobik, non-motil (tidak
bergerak), tidak membentuk spora, berbentuk batang, dan memiliki persen
G+C (guanosin-sitosin) yang tinggi (55-67%). Sel umumnya terlihat
berpasangan membentuk huruf V atau Y.[ Suhu optimal untuk pertumbuhan
Bifidobacterium adalah 37-41 °C dan pH optimum antara 6,5-7. Dari 30
spesies Bifidobacterium yang ditemukan, beberapa di antaranya digunakan
sebagai probiotik, yaitu Bifidobacterium infantis, Bifidobacterium lactis,
Bifidobacterium adolescentis, Bifidobacterium bifidum, Bifidobacterium
breve, Bifidobacterium longum, Bifidobacterium animalis, dan
Bifidobacterium thermophilum. Bakteri ini telah digunakan secara komersial
sebagai probiotik dalam pembuatan yogurt dan produk olah susu lainnya.
Pada praktikum kali ini, setelah pengamatan di bawah mikroskop,
praktikan menemukan bahwa bakteri Bifidobacterium bifidum ini berbentuk
coccus, padahal seharusnya bakteri jenis ini berbentuk basil. Kesalahan ini
mungkin disebabkan karena perlakuan fiksasi yang terlalu lama ataupun
karena agar yang tidak sengaja terambil pada saat pengambilan sampel.
Selain itu, juga bisa disebabkan karena terkotaminasi. Kemungkinan lain
Nova Nurfauziawati
240210100003
Kelompok 1A
yang dapat menyebabkan kesalahan ini adalah kotornya lensa pada
mikroskop yang digunakan untuk mengamati bakteri tersebut.
Berikut ini merupakan bakteri Bifidobacterium bifidum
Gambar 7. Bifidobacterium bifidum (sampel B)
Perbesaran 100 kali
Berdasarkan hasil pengamatan Bifidobacterium bifidum berbentuk
coccus, padahal seharusnya berbentuk basil sesuai dengan gambar
berdasarkan literatur sebagai berikut:
Gambar 8. Bifidobacterium bifidum (sciencephoto, 2011)
Bifidobacterium bifidum adalah organisme probiotik sangat penting
yang ditemukan dalam jumlah besar di usus dan mukosa vagina.
Bifidobacterium bifidum mencegah perkembangbiakan E. coli, Salmonella
dan Clostridium. Bakteri ini juga memproduksi asam laktat dan asam asetat
yang menurunkan pH usus dan mencegah pertumbuhan bakteri jahat.
Penelitian lain pada Bifidobacterium menunjukkan bahwa organisme ini
juga merangsang penyerapan mineral seperti besi, kalsium, magnesium, dan
seng.
Nova Nurfauziawati
240210100003
Kelompok 1A
B. Khamir
Khamir merupakan sekelompok jamur yang terdiri dari sel-sel tunggal
atau hifasederhana maupun miselium sempurna yang berkembang biak
dengan tunas membelahatau spora. Mampu memfermentasi gula menjadi
alcohol. Khamir dibedakan atas dua kelompok, sejati yaitu khamir yang
dapat menghasilkan askospora, khamir semu yakni yang tidak dapat
menghasilkan askospora dan hanya berkembang biak secara aseksualdengan
tunas. Sebagai contoh khamir sejati adalah Saccharomyces sereviceae yang
terdapat didalam ragi roti. Sedangkan contoh khamir semu adalah Candida
sp. yang berperan didalam pembuatan tapai.
Sel khamir mempunyai ukuran yang bervariasi yaitu 1-5 μm sampai
20-50 μm, dan lebar 1-10 μm. Bentuk sel khamir bermacam-macam, yaitu
bulat, oval, silinder, ogival yaitu bulat panjang dengan salah satu ujung
runcing, segitiga melengkung (triangular), berbentuk botol, bentuk apikulat
atau lemon, membentuk pseudomiselium (Fardiaz, 1992). Khamir adalah
mikroorganisme yang biasanya berukuran 5-10 kali lebih besar
dibandingkan dengan bakteri. Khamir dapat tumbuh baik dalam media padat
maupun cair dengan cara yang sama seperti bakteri. Khamir merupakan
organisme yang bersifat saprofit terutama pada daun, bunga, dan eksudat
dari tanaman.
Pengamatan bentuk khamir dilakukan berdasarkan beberapa langkah,
yaitu pertama, melakukan pembersihan pada gelas objek dengan kapas yang
sudah diberi alkohol 70%. Pemberian alkohol ini bertujuan agar gelas objek
yang akan digunakan sebagai alas untuk objek / sampel sudah steril. Kedua,
pengambilan satu Öse suspense khamir kemudian mengoleskannya pada
permukaan gelas objek. Langkah yang terakhir yaitu mengamatinya dengan
menggunakan mikroskop. Pada khamir tidak dilakukan pewarnaan karena
khamir tidak ada yang bersifat positif maupun negatif.
Berdasarkan pada hasil pengamatan menggunakan mikroskop dengan
perbesaran 16 x 40 kali dalam praktikum ini diperoleh keterangan bahwa
khamir yang diamati berbentuk oval dan bergerombol. Khamir yang diamati
ini merupakan khamir Saccharomyces cereviceae.
Nova Nurfauziawati
240210100003
Kelompok 1A
Berikut ini adalah gambar khamir yang diamati di bawah mikroskop:
Gambar 9. Saccharomyces cereviceae Perbesaran 16 x 40
Sedangkan gambar Saccharomyces cereviceae berdasarkan literatur
adalah sebgai berikut:
Gambar 10. Saccharomyces cereviceae (deanza,2011)
Sifat-sifat Saccharomyces:
1. Bentuk bulat, oval memenjang, dan mungkin membentuk
pseudomiselium.
2. Reproduksi melalui pertunasan multipolar dan pembentukan askospora.
3. Digunakan dalam industri pembuatan roti, alcohol, anggur, brem,
gliserol, dan enzim invertase
4. Sifat dibagi dua, yaitu :
a. Khamir permukaan (top yeast), yaitu khamir yang bersifat
fermentatif kuat dan tumbuh cepat pada suhu 200C. khamir ini
tumbuh secara menggerombol dan mengeluarkan CO2 cepat,
mengakibatkan sel terapung pada permukaan.
b. Khamir dasar (bottom yeast), tidak menggerombol, pertumbuhan
lebih lambat, suhu optimal fermentasi 10-150C. Karena sel-sel
tidak menggerombol CO2 diproduksi secara lambat, sel-sel akan
mengumpul pada dasar tabung.

VII. KESIMPULAN
 Sebelum mengamati bakteri, terlebih dahulu melakukan pembuatan
film / apusan bakteri.
 Berdasarkan perbedaan struktur dinding sel bakteri, bakteridibedakan
menjadi dua golongan yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram
negatif.
 Bakteri gram positif setelah diberikan pewarnaan gram berwarna ungu
kebiruan sedangkan pada bakteri gram negatif berwarna merah atau
merah muda.
 Bentuk bakteri berupa bulat (coccus), batang (bacillus) dan spiral
(spirillium).
 Khamir berukuran lebuh besar dari bakteri, berbentuk bulat, oval,
memenjang, dan mungkin membentuk pseudomiselium.
Nova Nurfauziawati
240210100003
Kelompok 1A
DAFTAR PUSTAKA
Fardiaz, S. 1989. Mikrobiologi Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi
IPB. Bogor
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi pangan I. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Frazier, W. C. and D. C. Westhoff. 1978. Food Microbiology. 3th
edition. Tata McGraw-Hill New Delhi.
Halferich,W. dan D.C. Westhoff. 1980. All About Yogurt. Prentice Hall. Inc New
York
Pelczar, Michael J. Dan E. C. S. Chan. 2006. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit
Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta.
Sumanti, Debby M. dkk. 2009. Diktat Penuntun Praktikum Mikrobiologi Pangan.
Jurusan Teknologi Industri Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian
Universitas Pasjadjaran
Robert Wayne Hutkins. 2006. Microbiology and Technology of Fermented Foods.
Wiley-Blackwell.
Anonima. 2011. Gambar Lactobascillus bulgaricus.
http://www.novinite.com/media/images/2004-04/33678.jpg diakses tanggal 4
Maret 2011
Anonimb. 2011. Gambar Lactobacillus acidophilus. http://www.museeafrappier.
qc.ca/images/site/large/lactobacillus-acidophilus02-milos-kalab.jpg
diakses tanggal 4 Maret 2011
Anonimc. 2011. Gambar Streptococcus thermophilus.
http://www.buyprobiotics.com/Miva_Graphics/Micro6.jpg diakses tanggal 4
Maret 2011
Anonimd. 2011. Gambar Bifidobacterium bifidum.
http://www.sciencephoto.com/images/download_wm_image.html/B2201561-
Bifidobacterium_bifidum-SPL.jpg?id=662201561 diakses tanggal 4 Maret
2011
Anonime. 2011. Gambar Saccharomyces cereviceae.
http://www.deanza.edu/faculty/mccauley/6a_site_images/fungiimages/
saccharomyces-400.jpg diakses pada 5 Maret 2011
Nova Nurfauziawati
240210100003
Kelompok 1A
Jawaban Pertanyaan
1. Sebutkan kemungkinan jenis bakteri dan khamir sesuai dengan penglihatan di
mikroskop (dilihat dari bentuk dan pewarnaan gram)!
Jawab:
 Bakteri pada umumnya mempunyaqi ukuran sel 0,5-1,0 μm kali 2,0-
5,0 μm. bentuk bakteri ada yang bulat, batang, ataupun spiral.
 Sel khamir mempunyai ukuran yang bervariasi, yaitu dengan panjang
1,5 μm – 20-5μm, dan lebar 1-10 μm. Bentuk sel bermacam-macam,
yaitu oval, bulat, silinder, ogival, yaitu bulat panjang dengan salah satu
ujung runcing, segitiga melengkung (triangular), berbentuk botol,
bentuk alpukat atau lemon, dan membentuk pseudomiselium.
Pewarnaan gram:
Bakteri terbagi menjadi dua gram, yaitu gram positif dan gram negatif.
Apabila hasil pewarnaan bakteri berwarna ungu atau biru berarti bakteri
tersebut merupakan bakteri gram positif. Sedangkan, bila hasil pewarnaan
bakteri berwarna merah berarti bakteri tersebut merupakan gram negatif.
2. Mengapa pada bakteri harus dilakukan pewarnaan gram sebelum dilihat di
bawah mikroskop?
Jawab: Karena pewarnaan gram berfungsi untuk membedakan atau
mengidentifikasikan spesies bakteri. Jenis bakteri yang paling mudah
diamati adalah untuk mengidentifikasi jenis bakteri gram positif dan
gram negative. Selain itu, dengan pewarnaan gram dapat memberi
petunjuk dengan cepat akan organisme penyebab suatu infeksi. Oleh
karena itu, banyak digunakan di laboraturium diagnostic rumah
sakit.
3. Sebutkan fungsi pewarnaan kristal violet dan sarfanin pada pewarnaan gram!
Jawab: Pewarna kristal violet berfungsi untuk pewarna primer yang
memberikan warna biru pada bakteri gram positif sehingga kristal
violet dijadikan sebagai indikator bakteri gram positif. Sedangkan
safranin berfungsi sebagai indikator bakteri gram negatif ataupun
positif.